sejarah sebagai peristiwa

July242012

MAKALAH SKI

 

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sejarah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak terlepas dari kejadian kejadian yang pernah ada. Sejarah bersifat luar biasa yang menjadikan setiap orang untuk berpikir,mengingat, merenungkan bahkan dapat dijadikan sebuah ibrah.Maka dari itu sejarah berguna untuk di jadikan sebagai guru kehidupan. 

Sejarah sering mempunyai berbagai versi yang berbeda; sejarah tentang satu peristiwa yang sama bisa ditulis dan di ceritakan dengan versi yang berlawanan. Contoh yang paling dekat dan sederhana adalah peristiwa G 30 S PKI dan Supersemar. Para sejarawan pendukung mantan presiden Soeharto menuliskan peristiwa tersebut dengan versinya dan sejarahwan kritis menghadirkan fakta beserta analisis yang berbeda dari versi yang pertama.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan sejarah sebagai peristiwa?

2.      Apa yang di maksud sejarah sebagai  didsiplin ilmu?

3.      Apa yang di maksud sejarah sebagai ilmu dan seni?

4.      Bagaimana cara mempelajari sejarah?

5.      Bagaimana implikasi ski terhadap pembelajaran?

 

C.    Tujuan Masalah

Untuk mempelajari keguanaan dari sejarah masa lampau dalam kehidupan masa kini serta realisasi dari sejarah masa lampau ke kehidupan masa kini.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

Sejarah (Bahasa Arab;Tarikh) adalah pengetahuan atau uraian tentang peristiwa yang bena- benar terjadi   di masa lampau. Setiap bangsa, bentuk  pemerintahan, peninggalan-peninggalan sejarah tentu memiliki asal- usul atau latar belakang masing-masing.

Sedangkan kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti pikiran atauakal budi. Kata kebudayaan menunjukkan sesuatu yang dihasilkan oleh pikiranatau akal budi manusia. Dengan demikian kebudayaan memiliki arti hasil kegiatan akal budi atau pemikiran manusia berupa adat istiadat, kepercayaan kesenian,ilmu pengetahuan, benda-benda atau bangunan, dan lain-lain.Dalam arti yang lain, kebudayaan diartikan sebagai peradaban.

Sehingga bangsa yang berbudaya sering disebut bangsa yang beradab. Artinya bangsa atau manusia yang memiliki akal budi, etika dan tata krama serta mampumenghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa atau manusia yang lainnya.Dari uraian diatas tentu kalian terbantu untuk memahami arti sejarahkebudayaan Islam. Yaitu asal- usul atau silsilah dari sesuatu yang dihasilkan dari pemikiran atau akal budi kaum Muslimin yang berhubungan dengan kepercayaan(keyakinan), ilmu pengetahuan, seni, adat istiadat, bentuk pemerintahan, arsitektur  bangunan, dan lain-lain.[1]

1.      Sejarah Kebudayaan Islam Sebagai Peristiwa

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu kata syajarah dan syajara. Syajarah berarti pohon, sesuatu yang mempunyai akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga, dan buah.

Pengertian etimologis ini mempengaruhi seseorang untuk melihat sejarah secara figurative sebagai pohon yang mempunyai akar yang berfungsi untuk memperkuat berdirinya batang pohon dan sekaligus untuk menyerap air dan makanan yang dibutuhkan demi keberlangsungan pertumbuhan pohon tersebut.

Sebagaimana pohon, sejarah, yang sering dipahami sebagai cerita masa lalu, mempunyai akar yang menjadi asal-muasal peristiwa atau sumber kejadian yang begitu penting sampai dikenang sepanjang waktu. Akar pohon yang baik akan menumbuhkan batang yang besar, kokoh, dan tinggi yang dibarengi dengan Pertumbuhan dahan, ranting, daun, bunga, dan buah yang bermanfaat bagi manusia. Begitu juga dengan sejarah, kalau sejarah suatu pristiwa itu mempunyai titik awal atau dasar yang baik maka akan melahirkan budaya beserta cabang-cabangnya, seperti ekonomi, politik, bahasa, dan pengetahuan, yang pada akhirnya membuahkan karya seni dan teknologi yang bermanfaat bagi manusia.

Sejarah dapat dipahami dari 2 aspek, yaitu :

1.      Sejarah sebagai peristiwa atau realitas (I’histoir realite) karena peristiwa sejarah atau kejadian sejarah itu benar-benaada dan terjadi pada masa lampau.

2.      Sejarah sebagai kisah sejarah (L’histoir recite). Dalam pengertian ini sejarah dipandang sebagai kisah dari peristiwa-peristiwa masa lampau.

Sartono kartodirdjo, membagi sejarah menjadi dua, yaitu :

1.      Sejarah dalam arti objektif  merupakan kejadian atau peristiwa sejarah yang tidak dapat terulang lagi.

2.      Sejarah dalam arti subjektif adalah suatu kontruksi (bangunan) yang disusun oleh penulis sebagai suatu uraian cerita (kisah). Kisah tersebut merupakan suatu kesatuan rangkaian dari fakta-fakta yang saling berkaitan.

Tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau digolongkan sebagai suatu peristiwa sejarah.

Peristiwa yang dapat digolongkan sebagai suatu peristiwa sejarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1.      Peristiwa tersebut Unik

Peristiwa sejarah merupakan suatu peristiwa yang unik, sebab hanya sejkali terjadi (once) atau dalam bahasa Jerman disebut dengan einmaligh.

2.      Peristiwa Tersebut Besar Pengaruhnya

Peristiwa atau kejadian pada masa lampau mempunyai pengaruh yang besar pada masanya atau pada masa-masa selanjutnya. Contoh, peristiwa pembacaan proklmasi kemerdekaan, sumpah pemuda, dsb.[2]

Sejarah  kebudayaan islam bisa dipahami sebagai berita atau cerita peristiwa masa lalu yang mempunyai asal- muasal tertentu. Peristiwa menjelang dan saat Muhammad SAW. Lahir dan diutus sebagai rasul adalah asal-muasal sejarah kebudayaan Islam. Dari akar ini tumbuh batang sejarah yaitu masa paska wafatnya Nabi Muhammad SAW. Yaitu masa khalifah al-Rasyidun. Batang terus tumbuh dan akhirnya melahirkan banyak cabang baik pemikiran, seperti Syiah, Khawarij, Murji’ah, dan Ahli Sunnah, atau kekuasaan, seperti, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasyiah, Dinasti Fatimiyyah, dan seterusnya.

Semua peristiwa baik yang menyangkut pemikiran, politik, ekonomi, teknologi, dan seni dalam sejarah Islam  disebut sebagai kebudayaan. Jadi, kebudayaan ini adalah hasil karya, rasa fan cipta orang-orang Muslim. Kata islam pada sejarah kebudayaan islam bukan sekedar menunjukkan bahwa kebudayaan itu dihasilkan oleh orang-orang Muslim melainkan sebagai rujukkan sumber nilai. Islam menjadi nilai kebudayaan itu. Ini juga berarti bahwa kebudayaan islam adalah hasil karya, cipta, dan rasa manusia yang menafsirkan agamanya dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, sejarah kebudayaan islam sama dengan sejarah kebudayaan lain pada umumnya, yaitu sifat dinamis. Perbedaannya terletak pada sumber nilainya.

Konsekuensi dari pemahaman etimologis diatas adalah bahwa sejarah sebagai sebuah peristiwa dianalogikan dan diperlakukan seperti pohon yang bisa dirawat, dipelihara, dan dipelajari. Untuk memahami pohon dengan baik, seseorang harus mengetahui batang tubuh anatuminya.

Akar kata lain dari sejarah adalah syajara. Ini adalah kata dari Bahasa Arab yang berarti perselisihan, pertentangan, pergaulan, atau perlawanan. Dari makna etimologis ini, bisa diperoleh makna terminologis sejarah yang berarti berita atau cerita yang menggambarkan perlawanan satu kelompok dengan kelompok lainnya atau satu gagasan dengan gagasan lainnya yang terjadi dalam satu tempat dan waktu tertentu.

Disamping itu, sekarang ini sejarah tidak dipahami sebagai peristiwa atau klejadian itu sendiri; sejarah tidak lebih dari rekonstruksi peristiwa masa lalu yang ditulis dan dilaporkan oleh orang-orang tertentu. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa sejarah tidak bersifat factual. Sejarah tetap bersifat factual sebab sifat ini yang membedakannya dengan dongeng atau gossip. Untuk saat ini, fakta sejarah tidak bisa dipahami das ding an sich, berada dan berdiri sendiri; fakta sejarah lebih bersifat konstruktif, sesuatu yang dikumpulkan, dipilih, dan dibangun oleh seseorang atau kelompok yang mempunyai perspektif atau cara pandang yang berbeda-beda.

Pemahaman dan wawasan ini membantu diri untuk lebih bijaksana menerima perbedaan-perbedaan yang ada dalam penulisan sejarah peradaban islam. Kelompok ahli sunnah menulis sejarah sesuai dengan perspektifnya, oleh karena itu mereka menulis sejarah kebudayaan islam berangkat dari konsep khilafah, pemerintah dipimpin oleh seorang khalifah. Sementara itu, kelompok syi’ah menulis sejarah dengan beranjak dari konsep imamah, pemerintah harus dipimpin oleh seorang imam.

Dari segi terminologis, sejarah berarti ilmu yang mempelajari dan menerjemahkan informasi dari laporan dan catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas tertentu. Pengetahuan mengenai sejarah melingkupi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah berlalu serta pengetahuan akan cara berfikir sejarah (historis). Pengertian yang berakhir ini mencangkup kerja penelitian, penilaian, dan analisis rentetan peristiwa yang bertujuan untuk menetapkan pola-pola sebab dan akibat, yang mendahului dan menyertai peristiwa tersebut. Pengetahuan atas pola sejarah tersebut, baik jatuh dan tumbuhnya atau pasang dan surutnya, dijadikan sebagai rujukan pendapat, keputusan, atau kebijakan untuk menentukan masa depan.

Sebagai sebuah peristiwa berharga, sejarah memiliki beberapa komponen dasar. Komponen-komponen itu meliputi:

a.      Kejadian

Sejarah merupakan kejadian-kejadian penting yang pernah ada. Kejadian ini bersifat luar biasa karena itu ia menyita pikiran orang untuk sibuk mengingat, merenungkan, dan menyampaikannya kepada orang lain. Kejadian-kejadian bersejarah ini berupa perjuangan mewujudkan gagasan-gagasan yang mulia, mempertahankan nilai dan keutuhan kelompok, melawan penguasaha yang tiran.

b.      Manusia

Sejarah tidak bisa dipisahkan dari manusia baik sebagai individu atau kelompok. Mereka adalah actor sekaligus ikon kejadian-kejadian penting tersebut. Karena itu juga banyak biografi orang-orang besar yang membawa perubahan yang berpengaruh baik pada masanya atau masa sesudahnya. Akan tetapi, keberadaan aktor atau tokoh sejarah tidak bisa dipahami dan dipelajari terpisah dari masyarakat tempat mereka tumbuh dan berkembang.

c.       Latar Belakang (konteks)

Ruang dan waktu merupakan komponen yang esensial dalam sejarah. Keduanya berfungsi sebagai konteks yang menyertai dan memungkinkan suatu peristiwa terjadi. Karena begitu pentingnya kedua komponen ini dalam sejarah, nama dari ilmu yang mempelajarinya dalam bahasa Arab disebut tarikh, yang dari segi etimologis berarti tanggal atau waktu kejadian. Karena alasan ini pula, sejarah identik dengan peristiwa kronologis. Artinya, satu peristiwa penting terjadi setelah peristiwa lainnya dan dari urutan kejadian ini bisa diketahui sebab dan akibatnya. Pada gilirannya, pola sebab dan akibat inilah ditarik hukum-hukum sejarah.

d.      Syarat Makna

Sejarah berisi catatan suatu masa yang ditemukan dan dipandang bermanfaat oleh generasi dari zaman berikutnya. Masa kini bisa dipahami dari peristiwa masa lampau bahkan masa yang akan datang bisa diprediksi dengan bekal kemampuan mengetahui hokum sejarah masa lampau. Jadi, sejarah bukanlah sekedar cerita besar masa lampau yang tanpa punya arti untuk masa kini dan mendatang. Pengetahuan sejarah menjadi modal untuk membangun peradaban yang lebih baik dari sebelumnya.

Empat unsure ini menjadi komponen penting dari sejarah sebagai sebuah peristiwa masa lampau yang berarti. Karena besarnya arti dan maknanya ini, sejarah menjadi mata pelajaran penting untuk diajarkan disemua jenjang pendidikan. Sebagai kumpulan peristiwa, sejarah bukanlah peristiwa itu sendiri. Ia berupa laporan atas peristiwa yang pernah terjadi. Wawasan sejarah ini sejalan dengan kenyataan bahwa gagasan mengenai dunia bukanlah dunia itu sendiri; the notion of world is different with the world it self. Oleh karena itu, sejarah harus diperlakukan secara kritis. Dalam hal ini, sejarah tidak ubahnya dengan jejak peristiwa serta bersifat konstruktif dan dinamis.[3]

1.      Sejarah Kebudayaan Islam Sebagai Disiplin Ilmu

Sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri, sejarah menuntut ketekunan dan keahlian orang yang mempelajari dan mengembangkannya. Orang yang tekun dan ahli mempelajari sejarah disebut sejarahwan. Profesi atau ahli ini dalam bahasa arab disebut muarrikh; kata ini merupakan kata jadian dari tarikh yang berarti tanggal dank arena itu muarrikh secara etimologis adalah orang yang ahli dalam masalah penanggalan peristiwa atau kejadiannya. Sedangkan dalam bahasa inggris, sejarahwan identik dengan historian yang dari segi bahasa berarti orang yang mengetahui dan bijaksana. Tugas mereka tidak hanya mencatat dan mengumpulkan dan menganalisis fakta-fakta historis secara obyektif semata melainkan juga menemukan makna dari peristiwa bersejarah tersebut untuk perbaikan sejarah masa kini dan mendatang.

Ada beberapa karakteristik yang sekaligus menjadi komponen utama sejarah sebagai sebuah disiplin itu:

a.       Memiliki obyek material

b.      Memiliki obyek formal

c.       Sistematis

d.      Teoritis

e.       Filosofis

Berikut ini penjelasan masing-masing karakteristik dan komponen yang menjadi sejarah sebagai disiplin ilmu:

a.      Memiliki obyek material

Sejarah termasuk bagian disiplin ilmu yang mandiri karena itu mempunyai obyek material yang bisa dipelajari. Obyek material sejarah adalah pengetahuan atau iformasi factual mengenai peristiwa dan kejadian penting dalam kurun waktu tertentu.

Komponen dari obyek material adalah subyek, obyek, dan realisasi antara subyek dengan obyek, subyek sejarah adalah manusia yang mengetahui dan mengalami suatu peristiwa; obyek sejarah adalah peristiwa tersebut; hubungan antara pelaku dan peristiwa juga menjadi materi dasar sejarah sebagai ilmu. Oleh karena sejarah mempelajari pengalaman dan peristiwa nyata maka disiplin ini tergolong kedalam ilmu empiris.

b.      Memiliki obyek formal

Obyek formal adalah cara pendekatan dan metode yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten, dan efisien. Maka dihasilkan sistem filsafat. Oleh karena itu, ilmu melahirkan filsafat sejarah atau sejarah ilmu sejarah yang lebih dikenal dengan nama historiography.

Obyek formal juga identik dengan kekhasan metode yang dipakai untuk menemukan, menggali, dan menemukan data dengan teknik observasi , klasifikasi, dokumentasi sebelum usaha interpretasi dan terkonstruksi masa lampau dilakukan.

            Metode dan proses penelitian sejarah diawali dengan heuristic, yaitu pencarian dan pengumpulan data-data factual yang berhubungan dengan peristiwa penting. Pencarian data-data ini juga didorong oleh banyak factor, salah satunya adalah masalah makna dan kejernihan faktanya.

c.       Sistematis

Dengan landasan metode, sejarah sebagai kisah ditulis secara sistematis. Hubungan antar bab dan hubungan antar sub bab pada setiap bab disusun secara kronologis, sehingga uraian secara keseluruhan bersifat diakronis (memanjang menurut alur waktu). Untuk mengetahui hubungan-hubungan kronologis seperti itu dibutuhkan prosedur inquiry, yaitu pencarian dan penemuan fakta dan makna sejarah.

            Uraian sistematis akan menunjukan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain yang bersifat kausalitas (hubungan sebab-akibat), karena sejarah merupakan suatu proses. Hal itu berarti kausalitas adalah hokum sejarah. Penulisan sejarah bisa bersifat tematis dan sinkronis, artinya sejarah sebagai ilmu bisa disusun berdasarkan tema dan konteks sosial terjadinya peristiwa itu tetapi unsur utama sejarah (historical mindedness), yaitu pentingnya waktu sebelum dan sesudah peristiwa itu terjadi harus diperhatikan.

d.      Teoritis

Sejarah sebagai ilmu juga memiliki teori, yaitu teori sejarah. Selain menggunakan metode dan teori sejarah, penulisan sejarah ilmiah dituntut untuk menggunakan pendekatan multidimensional (interdisipliner), yaitu penerapan konsep dan teori ilmu-ilmu sosial (antropologi, sosiologi, budaya, agama, ekonomi, politik, dll). Yang relevan dengan masalah sejarah yang dipelajari. Pendekatan ilmiah itu perlu dilakukan karena tulisan sejarah ilmiah harus bersifat deksriptif-analisis. Teori digunakan untuk mempertajam daya analisis, sehingga diperoleh kejelasan mengenai berbagai hal, termasuk makna peristiwa.

e.       Filosofis 

Filsafat adalah landasan berfikir untuk menegaskan kebenaran ilmu. Pemikiran filsafat, khususnya logika berfikir dapat meningkatkan kualitas pengetahuan manusia. oleh karena itu, sejarah sebagai ilmu juga memiliki filsafat sejarah. Persfektif filsafat itu digunakan untuk mencapai dan mengukur obyektivitas dan kebenaran sejarah.

Persfektif filsafat sejarah bersifat plural dan dinamis. Oleh karena itu, bisa jadi ada peristiwa, fakta, dan data sejarah yang dilihat dan dipahami dengan cara yang berbeda. Filsafat sejarah kontemporer memahami fakta sejarah sebagai hasil konstruksi dan rekonstruksi manusia; sejarah bukanlah peristiwa itu sendiri melainkan laporannya. Implikasinya adalah laporan itu bisa dikaji ulang dan maknanya pun bisa berkembang sesuai dengan konteks penulis dan pembacanya.[4]

2.      Sejarah Sebagai Ilmu dan Seni

1)      Sejarah sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;

a.       Empiris

Empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman tersebut direkam dalam dokumen dan peninggalan sejarah lainnya, kemudian diteliti oleh sejarawah untuk menemukan fakta.

b.      Memiliki Objek

Kata Objek berasal dari Latin objectus artinya yang dihadapan, sasaran, tujuan. Objek yang dipelajari oleh sejarah sebagai ilmu adalah manusia dan masyarakat yang menekankanpda sudut pandang waktu.

c.       Memiliki Teori

Dalam bahasaYunani theoria berarti renungan. Sama seperti ilmu sosia lainnya, sejarah mempunyai teori yang berisi kumpulan kaidah-kaidah pokok suatu ilmu, seperti: teori sosiologi, teori nasionalisme, teori konflik sosial, dsb.

d.      Memiliki Metode

Methodos (Bahasa Yunani) berarti cara. Dalam rangka penelitian, sejarah mempunyai metodologi penelitian sendiri yang menjadi patokan-patokan tradisi ilmiah yang senantiasa dihayati.

2)      Sejarah sebagai Seni

Sejarah sebagai seni, memerlukan :

a.       Instuisi

Sejarawan memerlukan instuisi atau ilham, yaitu pemahaman langsung dan insting selama masa penelitian berlangsung. Dalam hal ini cara kerja sejarawan sama dengan seniman.

b.      Imajinasi

Dalam melakukan pekerjaannya seorang sejarawan harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi seudah itu. Contohnya : Sejarah Sagaranten, harus  membayangkan keadaan geografis kota Sagaranten.

c.       Emosi

Dalam penulisan sejarah harus ada keterlibatan emosi, dalam hal ini penulis sejarah harus mempunyai empati yang tinggi (empatheia = perasaan) untuk menyatukan perasaan dengan objeknya, seolah-olah mengalami sendiri.

d.      Gaya Bahasa

Dalam penulisan sejarah gaya bahasa yang digunakan harus lugas atau tidak berbelit-belit, sehingga kisah sejarah akan mudah dipahami oleh pembaca.

Sejarah sebagai seni memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut :

a.       Berkurangnya Ketetapan dan Objektivitas

Accuracy (ketepatan) dan objektivitas sangat diperlukan dalam penulisan sejarah. Penulisan sejarah berdasarkan fakta, sedangkan seni merupakan hasil imajinasi.

b.      Penulisan Sejarah akan Terbatas

Penulisan sejarah yang terlalu dekat dengan seni akan terbatas kepada objek-objek yang dapat dideskripsikan . Penulisan sejarah akan penuh dengan gambaran tentang perang dan biografi yang penuh sanjungan.[5]

3.      Penulisan Sejarah Kebudayaan islam

Selama ini, sejarah kebudayaan islam ditulis dengan cara kronologis. Penulisan cara seperti ini lazim dipakai untuk menuliskan kajian sejarah karena salah satu inti utama sejarah adalah perubahan sistem sosial dalam perspektif waktu. Penulisan kronologis ini juga sebagian menunjukan bahwa satu kejadian sejarah belakangan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya; atau minimal peristiwa sebelumnya bisa menjelaskan hadirnya fenomena baru dalam babak sejarah.

Kronologi penulisan sejarah kebudayaan islam yang ada masih lebih banyak berbasis pada ceritamengenai pergantian kekuasaan dan pemerintahan. Sedikit sekali ahli sejarah islam yang menulis kejadian-kejadian penting dengan basis perkembangan masyarakat dan sistem sosialnya. Diantara sedikit ahli sejarah itu adalah Ibn Khaldun.

Bentuk kronologis penulisan sejarah kebudayaan Islam diawali dengan masa pra-islam Arab di Jazirah Arabiah. Masa ini yang melatarbelakangi penulisan sejarah berikutnya, yaitu kelahiran Nabi Muhammad, dakwah beliau di Mekkah, peristiwa Hijrah ke Madinah. Periodisasi tersebut dilanjutkan dengan penulisan peristiwa pada masa Khalifah al-Rasyidah yang diikuti oleh hadirnya masa Bani Umayyah dan masa Abbasiyah. Dari masa ini penulisan berlanjut pada masa keemasan kebudayaan islam di Andalusia di wilayah Barat dan Bani Fatimiyah Syafawiyah serta Mughal di wilayah Timur. Setelah itu, penulisan sejarah ini  menceritakan masa Turki Usmani yang dilanjutkan dengan kejatuhan khalifah islam ditangan bangsa Eropa, Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Spanyol, dsb.

Untuk kasus kebudayaan Islam Indonesia, titi mangsanya diawali dengan penyebaran agama islam lewat saudagar-saudagar India dan  Arab yang masuk melalui Aceh. Di pulau Jawa, penulisan sejarah itu diawali dengan usaha-usaha dakwah yang dilakukan oleh sejumlah ulama yang dikenal dengan nama wali songo. Alim ulama ini bekerja lebih banyak bekerja dengan latar dakwasosial dari pada lewat kekuasaan politik. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa ulama-ulama tersebut tidak punya andil dalam pembentukan kerajaan-kerajaan islam dinusantara, bahkan sejarah baru Negara Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh peran ulama’-ulama berikutnya.

4.      Fungsi dan Manfaat Sejarah

Prinsip hidup dalam Islam bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin sulit atau bahkan tidak bisa terpenuhi kalau kehidupan kemarin tidak diketahui. Dalam konteks ini, kemarin tidak dipahami satu hari lewat dari hari ini melainkan semua hari, minggu, bulan ,tahun, windu, abad, bahkan mellineum yang sudah lewat. Dengan kata lain, hari kemarin yang dimaksud adalah sejarah. Al-Quran melalui surat al-Hasyr 18 menyarankan orang beriman untuk melihat hari kemari untuk hari esok yang lebih baik.

5.      Fungsi Sejarah

a.       Pelajaran (otoritas) Sejarah adalah pelajaran yang terbaik karena ia menyediakan referensi yang berharga kepada seseorang untuk mengambil keputusan tanpa harus mengalaminya. Akan tetap, sejarah tidak akan mempunyai kesan dan makna yang kuat kalau tidak dibaca dan dipelajari dengan empati, perasaan merasakan apa yang dialami orang lain. Oleh karena peristiwa hanya terjadi sekali  dan tidak terulang, maka dibutuhkan usaha kreatif untuk menampilkan makna sejarah. Sejarah harus dipelajari dengan imajinasi yang tinggi. Terutama sejarah awal peradaban Islam, pada masa Nabi SAW. Sejarah atau yang lebih dikenal dengan sirah (biografi) menjadi bagian dari sumber agama, yang biasa disebut Sunnah.

b.      Model Sejarah bisa dijadikan model untuk menentukan sikap dan membangun masa kini dan mendatang. Terutama sejarah kebudayaan Islam masa awal, masa Nabi Muhammad SAW bias dijadikan paradigma membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Para tokoh sejarah, seperti Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabatnya bias dijadikan uswah yang baik untuk hidup bermasyarakat. System dan cara pembentukan masyarakat oleh Nabi juga bisa dijadikan model untuk membangun masyarakat kini dan mendatang yang lebih baik. Usaha menjadikan sebagai model harus dilakukan dengan cara kreatif supaya muncul modifikasi baru yang lebih baik dan cocok untuk konteks dini dan kini.

c.       Rekreasi ada banyak situs peninggalan purbakala yang menjadi objek wisata, bahkan kebanyakan tempat wisata itu memeng berupa tempat-tempat bersejarah. Tempat-tempat bersejarah, bangunan, dan barang-barangnya menjadi objek rekreasi tersendiri bagi pengunjungnya. Jadi, sejarah tidak dimaknai sebagai peristiwa masa lalu yang sudah jadi dan tidak mungkin dirubah. Sejara adalah sesuatu yang dinamis yang bisa dikonstruksikan untuk memahami peristiwa masa lalu dan membangun masa depan yang lebih baik.

d.      Manfaat Sejarah

e.       Menumbuhkan Kesadaran Komunitas

f.       Sejarah, baik dalam bentuk cerita atau laporan ilmiah, memiliki fungsi psikologi yang strategis dan praktis dalam membangkitkan asa dan optimism suatu komunitas atau bangsa. Melalui sejarah, seseorang bisa merasakan bahwa dirinya adalah termasuk bagian dari masyarakat saat ini dan sebelumnya.

g.      Membangkitkan Inspirasi

h.      Sejarah bukan hanya sekumpulan cerita yang berkaitan dengan tanggal, tokoh, dan tempat berbagai peristiwa penting terjadi tetapi juga sarat makna akan menjadi rujukan untuk mengambil pelajaran dan terutama inspirasi untuk menata hari esok yang lebih baik. Jika sejarah hanya dilihat sebagai suatu peristiwa tanpa dimaknai dan diambil pelajaran, maka ia hanya berfungsi sebagai pajangan yang kurang membawa keuntungan bagi yang memilikinya.

i.        Membiasakan Berpikir Kontekstual Teks sejarah tidak pernah ditulis terlepas dari konteks yang menyertai peristiwa itu. Pola penulisan sejarah seperti ini bisa membuat pembacanya untuk terbiasa berpikir dengan cara yang sama, yaitu kontekstual. Meskipun penuh dengan nilai dan konsep-konsep sulit, sejarah selalu menghadirkan referensi kejadian historisnya yang melibatkan dimensi ruang dan waktu. Fungsi ini disapa oleh surat al-Rum ayat 9 yang menganjurkan manusia untuk mempelajari masa lampau beserta konteksnya.

j.        Mendorong Berpikir Kritis Sejarah yang dipahami tidak hanya sebagai kumpulan peristiwa dalam kurun dan rentang waktu tertentu akan mendorong orang untuk berpikir kritis. Sejarah selalu melibatkan interpretasi dan opini penulisnya. Oleh karena itu, sejarah, baik melalui fakta atau data dan perspektif maupun membutuhkan cara berpikir kritis berdasarkan konteksnya, kalau tidak dia akan menjadi korban sejarah.

k.      Meningkatkan Penghargaan atas Jasa Masyarakat sebelumnya Sejarah menggambarkan perjuangan masyarakat terdahulu untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup yang lebih baik. Tidak sedikit dari perjuangan itu yang berakhir dengan tragis. Sejarah bisa mengingatkan seseorang bahwa kehidupan sekarang tidak bisa dinikmati tanpa perjuangan orang-orang sebelumnya.

 

B.     IMPLIKASI HAKIKAT SEJARAH PADA PEMBELAJARAN SKI

Sejarah termasuk dalam kategori ilmu humaniora, yaitu disiplin ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat. Sejarah dianggap sebagai induk pengetahuan karena dia identik deangan kehidupan manusia itu sendiri. Dari sekian banyak makhluk hidup yang ada di muka bumi, hanya manusia yang menuliskan pengalamannya yang akhirnya disebut dengan sejarah.

Salah satu alasan mengapa hanya manusia yang menjadi makhluk yang mengalami perkembangan terus-menerus adalah karena adanya memori jangka panjang. Memori ini yang berfungsi menyimpan dan mengolah pengalaman yang pernah dilalui dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan menentukan keputusan hari ini dan esok. Pemahaman ini mengandung arti bahwa m

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top