Dakwah Nabi Muhammad Saw beserta sahabatnya

July252012

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sejarah kebudayaan  islam atau SKI merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah baik di MI, Tsanawiyah maupun di Aliyah. Sebagai salah satu mata pelajaran islam menerangkan tentang sejarah Agama Islam dari mulai sejarah lahirnya agama islam sampai sejarah perjalanan rasulullah dalam menyebarkan agama islam hingga ke penjuru dunia. Pembelajaran SKI di setiap jenjang pendidikan  memiliki tahapan  tertentu dalam pembahasan materinya. Karena mengenai sejarah maka pembelajaran SKI harus sistematis disampaikannya. Sehingga, tidak ada kekeliruan dan  kejanggalan dalam  mempelajarinya. Pada tingkat madrasah  ibtidaiyah SKI dibahas secara sekilas atau secara garis besarnya saja. Berbeda dengan tingkat Aliyah SKI dibahas dengan lebih terperinci.

Pada makalah ini kami akan membahas materi-materi SKI pada MI kelas IV yang  terdiri dari empat pokok pembahasan. Keempat pokok pembahasan ini dibagi kedalam dua semester, diantaranya semester pertama membahas tentang dakwah nabi Muhammad SAW dan membahas tentang akhlak nabi Muhammad SAW. sementara pada semester kedua membahas tentang  hijrahnya Rasulullah ke Thaif dan Isra Mi’raj Rasulullah SAW. Materi-materi tersebut secara ringkas akan kami bahas pada makalah ini.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.       Mengenal dakwah Nabi Muhammad Saw dan parasahabatnya

1.1          Dakwah Nabi Muhammad Saw beserta sahabatnya[1]

Sebagaimana diketahui, kota Mekkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah dan pengurus berhala serta patung- patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Sehingga untuk mencapai tujuan, yaitu  melakukan  perubahan di kota Mekkah, akan lebih sulit dan sukar jika dibandingkan apabila hal tersebut jauh darinya. Karenanya, dakwah membutuhkan tekad  baja yang  tak mudah tergoyahkan oleh beruntunnya musibah dan bencana yang menimpa.

Rasulullah SAW di kala mengasingkan diri di Gua Hira dengan perasaan cemas dan khawatir tiba-tiba terdengar suara dari langit, beliau menengadah tampak malaikat  jibril. Beliau menggigil, ketakutan dan  pulang minta kepada isterinya untuk menyelimutinya. Dalam  keadaan  berselimut itu datang Jibril menyampaikan wahyu yang ke dua yaitu surat Al Muddatsir (QS 74 ayat 1-7).

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4)

 وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

 

Artinya : “ Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah  berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan  maksud) memperoleh (balasan) yang lebih baik, dan untuk (memenuhi perintah) rabbmu bersabarlah.”

Dengan turunnya wahyu ini Rasulullah SAW mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam dan mengajak umat manusia menyembah Allah SWT.

1)      Menyiarkan Agama Islam Secara Sembunyi-Sembunyi

Pertama-tama dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah menawarkan islam kepada orang-orang yang dekat hubungannya dengan beliau, keluarga serta sahabat-sahabat karib beliau. Beliau mengenal mereka sebagai orang-orang yang mencintai Allah dan kebaikan, sedang mereka yang mengenal beliau sebagai sosok yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keshalihan. Kebesaran jiwa Rasulullah serta kebenaran berita yang dibawanya merespons dengan baik da’wah beliau.

Orang-orang yang pertama-tama masuk Islam adalah:

a.       Siti Khadijah (Istri Nabi Muhammad SAW)

b.      Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi Muhammad SAW)

c.       Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi Muhammad SAW)

d.      Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi Muhammad SAW).

Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:

a.       Utsman Bin Affan

b.      Zubair Bin Awwam

c.        Saad Bin Abi Waqqash

d.      Abdurahman Bin Auf

e.        Thalhah Bin “Ubaidillah

f.       Abu Ubaidillah Bin Jarrah

g.      Arqam Bin Abil Arqam

h.      Fatimah Binti Khathab

Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.

2). Menyiarkan Agama Islam Secara Terang-Terangan

Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW dakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian turun surat Al Hijr: 94 (QS 15 ayat 94).

Artinya”Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr : 15).

Dengan turunnya ayat ini Rasulullah SAW menyiarkan dakwah secara terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Agama Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai dikalangan masyarakat Makkah. Islam semakin meluas dan pengikutnya semakin bertambah.

Orang-orang Quraisy marah dan melarang penyiaran islam bahkan nyawa Rasul terancam. Nabi beserta sahabatnya semakin kuat dan tangguh tantangan dan hambatan dihadapi dengan tabah serta sabar walaupun ejekan, cacian, olok-olokan dan tertawaan, menjelek-jelekkan, melawan al-Qur’an dan memberikan tawaran bergantian dalam penyembahan.

Dakwah secara terangan ini walaupun banyak tantangan banyak yang masuk Agama Islam dan untuk penyiaran Islam Nabi SAW ke Habasyah (Etiopia) ini dilakukan karena di mekkah pengikutnya sering di aniyaya, sehingga Rasulullah SAW bersabda pada pengikutnya;” jikalau kamu berpindah ke negeri Habsy adalah lebih baik karena disana ada seorang raja yang wilayahnya tidak ada seorangpun yang dianiyaya. Sehingga Allah menjadikan suatu masa kegirangan dan keluasaan kepadamu daripada keadaan seperti sekarang “ hijrah ini dilakukan 2 kali. Untuk yang kedua kalinya raja Habsy memeluk agama islam. [2]  kemudian hijah ke Thaif, dan Yatsrib (Madinah). Sehingga Islam meluas dan banyak pengikutnya.

Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW th ke 10 pada saat “Amul Khuzni”artinya tahun duka cita yaitu Abu Thalib (pamannya wafat) dan siti Khadijah (istri nabi juga wafat) serta umat Islam pada sengsara. Ditengah kesedihan ini Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram dan dari Masjidil Haram menuju ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.

1.2          Ketabahan Nabi Muhammad Saw beserta parasahabatnya dalam berdakwah

Pada mulanya, dakwah Nabi Muhammad di Makkah dimulai dari sanak keluarga dan kerabat dekat. Itupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, di rumah salah seorang sahabat yang bernama Al Arqom bin Abil Arqom Al Makhzumi. Upaya tersebut membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Kurang lebih tiga tahun ada 39 orang yang menyatakan iman dan Islam, semuanya dari kerabat dekat dan sahabat-sahabat yang lain. Di antara kerabat dekat yang masuk Islam waktu itu antara lain Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah. Khadijah, istri nabi, orang yang cukup terpandang dan kaya raya. Abu Bakar, seorang dermawan yang kaya raya. Ali bin Abi Tholib, seorang pemuda yang cukup cerdas dan dihormati. Dengan masuk Islamnya orang-orang tersebut membawa pengaruh besar pada dakwah nabi sampai masa berikutnya. Karena orang-orang tersebut cukup dihormati di kalangan orang-orang Quraisy.

Di antara sahabat yang menyusul masuk Islam antara lain Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Fatimah binti Khatab serta suaminya (Said bin Zaid), Arqam bin Abil Arqam, Thalhah bin Ubaidillah. Mereka termasuk “Assabiqunal Awwalun”, yakni orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. mendapat reaksi cukup keras dari para pemuka dan tokoh Quraisy, antara lain Abu Lahab (Abdul Uzza), Abu Jahal, Umar ibnu Khatab (sebelum masuk Islam), Uqbah bin Abi Muatih, Aswad bin Abdi Jaghuts, Hakam bin Abil Ash, Abu Sufyan bin Harb (sebelum masuk Islam), Ummu Jamil (istri Abu Lahab). Reaksi keras yang dilakukan oleh para tokoh Quraisy tersebut antara lain berupa ejekan, hinaan, hasutan, ancaman, dan penganiayaan secara fisik. Hal yang sama juga dilakukan kepada orang-orang Quraisy sendiri, agar tidak mengikuti seruan Nabi Muhammad. Namun, Rasulullah tetap tabah dan sabar, dakwah pun tetap dijalankan. Bahkan semakin terang-terangan dan meluas ke wilayah lain.

Menghadapi sikap Rasulullah tersebut orang-orang Quraisy bertambah marah, bahkan pernah merencanakan akan melakukan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Rencana tersebut dilakukan menjelang Nabi Muhammad akan hijrah ke Madinah. Atas pertolongan Allah SWT, waktu itu Nabi selamat dari rencana pembunuhan tersebut. Kemudian bisa hijrah ke Madinah. Meskipun Nabi Muhammad saw. dengan susah payah dalam berdakwah karena mendapat tantangan dari Kaum Quraisy, tetapi makin hari makin didengar orang sehingga makin banyak pengikutnya. Dakwah Nabi Muhammad di Makah dilakukan kurang lebih selama 13 tahun, dan selebihnya selama 10 tahun Nabi Muhammad berada di Madinah. Ketika berdakwah di Makkah, tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat begitu besar.

 

1.3         Meneladani ketabahan Nabi Muhammad Saw dan parasahabatnya dalam berdakwah

Dari uraian sejarah di atas dapat diambil pelajaran yang sangat berharga dari cara cara dakwah Rasulullah yang harus diteladani oleh umat islam, antara lain adalah:

      Nabi Muhammad berdakwah dengan keteladanan. Sebelum beliau menyampaikan sesuatu, maka beliau terlebih dahulu melaksanakanya. Jadi, disamping dakwah dengan lisan, dakwah juga dilakukan dengan perbuatan, sikap, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

      Disampaikan dengan penuh kehati-hatian, sabar, dan menggunakan bahasa yang halus dan lemah lembut serta dengan bahasa yang mudah dipahami.

       Rasulullah saw. memposisikan para pengikutnya sebagai sahabat, hal ini tercermin dalam sebutan para pengikutnya yakni dengan sebutan ‘sahabat’. Cara seperti ini menimbulkan rasa simpati yang luar biasa, karena di dalam Islam nyata-nyata diterapkan kesetaraan.

      Rasulullah saw. selalu bersama para sahabat-sahabatnya baik dalam keadaan suka maupun duka, dengan demikian terjalin persatuan, kesatuan, dan solidaritas umat Islam yang sangat kuat. Dalam berdakwah Rasulullah saw. tidak pernah memaksakan kehendak, Rasulullah saw hanya menyampaikan ajaran dari Allah SWT, dan memberikan pemahaman secara rasional dan dengan hati yang jernih. Mengikuti atau tidak hal itu menjadi hak pribadi masing-masing. Dengan kata lain, dalam berdakwah Rasulullah saw tidak pernah menggunakan cara-cara kekerasan

2.       Mengenal Kepribadian Nabi Muhammad Saw

2.1           Ciri-Ciri Kepribadian Nabi Muhammad Saw

Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah

Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi. Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21). Sejak kecil beliau terkenal akan kejujurannya. Sehingga terkenal dengan gelar Al-Amin.

Karena kecintaannya kepada ALLAH Swt, dan rasa kehambaan yang tinggi dalam dirinya. Anugerah kemuliaan dari ALLAH Swt, tidak menjadikannya merasa lebih dari yang lain.Dalam kesendirian maupun ketika di depan umum, beliau menunjukkan sikap rendah hati. Itulah sebabnya beliau belum pernah tanpa rasa canggung sedikit pun makan di sebelah orang tua yang penuh kudis,miskin dan kotor. Beliau bahkan pernah mencium tangan seorang pekerja kasar(tukang batu)seraya berucap:"Tangan inilah yang akan membawamu ke surga."Kerendahan hati menjadi ciri khas kepribadian Rasulullah SAW.Kapan,dimana pun dan kepada siapa pun beliau selalu merendahkan hati.Meskipun beliau mendapat pujian,sanjungan,kemuliaan,penghormatan dari Tuhan dan seluruh makhluk,namun Rasulullah SAW tak pernah merasa tinggi hati.

2.2          Contoh Prilaku yang meneladani kepribadian Nabi Muhammad Saw

Perilaku keteladana nabi Muhammad SAW sudah Nampak sejak kecil. Allah menjadikan Nabi Muhammad laksana Al-Quran berjalan.maksudnya bahwa akhlak beliau merupakan penerapan bagi Al-Quran.  Seperti ditegaskan dalam Q.S Al- Qalam; 4 .perilaku beliau sejak kecil, beliau sanat giat bekerja, jujur dan lemah lembut dalam perkataan. Beliau ju8ga tidak pernah sombong dan mandiri semenjak ditinggalkan ibunya.

Rasulullah memiliki sifat-sifat baik, yang terkenal adalah:

·         Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong. Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.

·         Amanah artinya dapat dipercaya.Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat atau tidak dapat dipercaya.Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah SWT. Rasulullah taat kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai dengan petunjuk Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT maupun kepada umatnya.

·         Tabligh artinya menyampaikan.Rasulullah sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan (kitman).Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya tidak ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir.Rasulullah menyampaikan risalah secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.

·         Fathonah artinya cerdas.Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh.Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah diterima dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.[3]

2.3         Meneladani kepribadian Nabi Muhammad Saw Sebagai Rahmat seluruh Alam

Nabi Muhammad Saw bin Abdullah merupakan figur teragung dalam Islam. Beliau adalah pengemban risalah dan penyampai pesan dari Allah Swt. Beliau menjadi jendela bagi kita untuk menembus dunia langit dan jalan menuju wahyu Allah. Sunahnya merupakan hujah dan perjalanan hidupnya menginspirasi berbagai bangsa dan generasi. Beliau merupakan salah satu simbol kemanusiaan dan tokoh besar yang bisa mengubah sejarah.

Untuk dapat meneladani Rasulullah SAW harus banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits. Sebagai salah satu contoh saja yaitu tentang kejujuran dan amanah atau dapat dipercayanya nabi Muhammad SAW. selain itu kita perlu pula bersahaja, giat bekerja, kukuh hati pemaaf, pemurah dan mencontoh sipat rasulullah lainnya. [4]

 

 

 

 

3.      Memahami Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Thaif

A.    Nabi Muhammad Saw Hijrah Ke Thaif

      Sebab-sebab Rasulullah hijrah ke Thaif, diantaranya;

Kisah Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah Serta Jasa Mereka

Setelah umat Islam, keluarga Bani Hasyim dan keluarga Bani Abdul Muthalib bebas dari pemboikotan dan pengasingan, maka kesengsaraan, kemiskinan dan kelaparan melanda mereka.Selang beberapa bulan berikutnya, dua orang pelindung Nabi, Khadijah binti Khuwalid dan Abu Thalib bin Abdul Muthalib mendahului beliau ke alam baka.

Khadijah istri Nabi Muhammad Saw, meninggal dalam usia 65 tahun, pada tahun kesepuluh kenabian dan telah mengarungi bahtera rumah tangga bersama Nabi selama dua puluh lima tahun. Dari pernikahannya, Allah mengaruniakan enam orang anak yang terdiri dari dua orang laki-laki yaitu, Abdullah dan Qasim serta empat orang puteri, yaitu Ruqayah, Zaenab, Ummu Kulsum dan Fatimah, dimakamkan di Ma’la di kota Makkah.

Khadijah istri yang setia, orang yang mula pertama mengikuti ajaran Rasulullah, telah menyokong perjuangan dan dakwah Islamiyah dengan segala jiwa, raga dan harta, dan selalu memberikan kesejahteraan serta ketentraman pada diri Nabi Muhammad Saw dalam rumah tangga dan dakwah Islamiyah. Kepergian beliau membuat hati Nabi berduka cita, maka sepeninggal beliau, Nabi selalu mengunjungi keluarga dan kerabat beliau untuk bersilaturahmi dan mengenang jasa Khadijah.

Selang beberapa hari, Abu Thalib paman Nabi, wafat dalam usia 80 tahun. Beliau telah mengasuh Nabi sejak umur delapan tahun. Segala kasih sayang telah dicurahkan, beliau telah menikahkannya dengan Khadijah binti Khuwailid, bahkan setelah menjadi rasul, beliaulah sebagai pelindungnya.Ketika Abu Lahab menyuruh menangkap Nabi Muhammad Saw pada pertemuan keluarga besar Quraisy, Abu Thalib tampil sebagai pembela. Begitu pula tatkala perutusan Kafir Quraisy mendatangi Nabi, Abu Thalib yang selalu menghadapi mereka.

Abu Thalib seorang tokoh Quraisy yang disegani, kewibawaan beliau menjadi pelindung Rasulullah, namun beliau tak sempat mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga beliau meninggal dalam keadaan Kafir.

Wafatnya kedua pelindung Nabi, menjadikan hati beliau sangat duka cita, sehingga tahun kesepuluh kenabian dinamakan “Amul Huzni” artinya tahun kesedihan.

Tekanan Kaum Kafir Quraisy

Sepeninggal Khadijah dan Abu Thalib, sebagai pelindung dan penasihat Nabi Muhammad Saw, kafir Quraisy semakin berkuasa mengancam dan menganiaya Nabi, agar beliau menghentikan dakwahnya.

Abu Lahab, Hakim bin Ash dan Utbah bin Muit adalah tetangga dekat Nabi Muhammad Saw. Mereka selalu melempari kotoran dan najis ke halaman rumah Nabi dan juga jalan yang menuju rumah beliau. Ketika Nabi keluar rumah, dengan segera mereka melempari kotoran dan najis, bahkan ketika Nabi menunaikan sholat.

Istri Abu Lahab selalu meletakkan duri atau pecahan-pecahan di muka pintu Nabi, sehingga dapat melukai dan mengganggu beliau keluar rumah.Pernah ketika Nabi sedang memberi pelajaran kepada sahabat-sahabat tentang Agama Islam di masjid, kaum kafir Quraisy jadi marah. Nabi dan sahabat-sahabat beliau mereka pukul.[5]

  1. Peristiwa Hijrah Ke Thaif Nabi Muhammad Saw Ke Thaif

Sesudah Abu Thalib dan Khadijah meninggal dunia, Nabi melihat bahwa penganiayaan kaum kafir Quraisy terhadap beliau dan sahabat-sahabatnya makin menjadi-jadi, di luar perikemanusiaan dan sopan santun. Beliau yakin bahwa kota Makkah tidak sesuai lagi untuk dijadikan pusat dakwah.

Karena itu, dibuatlah rencana akan menjalankan seruan agama Islam keluar kota makkah, dengan harapan akan dapat menemukan tempat lain yang sesuai untuk dijadikan pusat dakwah. Nabi mulai mengunjungi beberapa negeri sambil memperkenalkan diri pokok-pokok agama Islam kepada penduduk.

Akan tetapi, Nabi senantiasa juga menemui kesengsaraan dan kesulitan-kesulitan. Sering kali beliau mendengar penduduk negeri-negeri itu mengejek : “Sekiranya kata-kata yang diserukan itu baik, tentu keluarga dan kaum kerabatnyalah yang menerima lebih dahulu”.

Akhirnya sampailah Nabi bersama Zaid bin Tsabit di negeri Thaif. Negeri Thaif terkenal berhawa sejuk dan keramahan penduduknya terhadap tamu yang datang.

Di Thaif Nabi menyeru orang-orang terkemuka di kota itu agar menyembah kepada Allah SWT. Penduduk Thaif menolak sambil mengusir kedatangan Nabi. Mereka mencaci maki, mempersorakkan dan melempari Nabi dengan batu, Nabi menderita luka-luka.

Untuk membersihkan darah luka yang mengalir, Nabi berteduh di kebun anggur, kemudian malaikat Jibril datang dan menjumpainya memohon agar beliau mengijinkan untuk menghimpit penduduk negeri Thaif dengan dua buah gunung. Nabi menolak dan berdo’a: Allahummah diqaumi fainnahum la ya’lamun. Artinya: “Ya, Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.

Dari kejauhan, Addas tukang kebun datang membawakan setangkai anggur untuk diberikan kepada Nabi dan tuannya. Ketika Nabi memakan, beliau membaca Bismillah. Mendengar bacaan itu Addas terheran karena apa yang diucapkan Nabi sama dengan apa yang ia baca dan dia belum pernah mendengar penduduk negeri itu membacanya.

Nabi bertanya tentang tanah asal usul dan Agama Addas. Ia menjawab “Tanah asalnya ialah tempat kelahiran Nabi Yunus  dan agamanya Nasrani”. Nabi membacakan kisah Nabi Yunus yang tertera dalam Al-Qur’an, terharu Addas mendengarnya, lalu ia menyatakan dirinya sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw.

C.    Kesabaran Nabi Muhammad Saw Dalam Peristiwa Hijrah Ke Thaif

Dari peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah saw ini dan dari siksaan dan penderitaan yang ditemuinya dalam perjalanan ini, kemudian dari proses kembalinya Rasulullah saw ke Mekah, kita dapat menarik beberapa pelajaran berikut :

Pertama, bahwa semua bentuk penyiksaan dan penderitaan yang dialami Rasulullah saw, khususnya dalam perjalanan hijrah ke Thaif ini hanyalah merupakan sebagian dari perjuangan tabligh-nya kepada manusia.

Diutusnya Rasulullah saw bukan hanya untuk menyampaikan aqidah yang benar tentang alam dan penciptaannya, hukum-hukum ibadah, akhlak, dan mu’amalah tetapi juga untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin kewajiban bersabar yang telah diperintahkan Allah dan menjelaskan cara pelaksanaan sabar dan mushabarah (melipatgandakan kesabaran) yang diperintahkan Allah di dalam firman-Nya :"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga dan bertawakalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.“ QS Ali Imran : 200

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita cara melaksanakan peribadatan dengan peragaan yang bersita aplikatif , lalu bersabda :"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat (cara) aku shalat."

Sabda Nabi saw :"Ambillah dariku manasik (cara pelaksanaan ibadah haji) mu.“ Jika hal ini dikaitkan dengan kesabaran, maka seolah-olah Rasulullah saw melalui kesabaran yang telah dicontohkannya, memerintahkan kepada kita, “Bersabarlah sebagaimana kamu melihat aku bersabar.“ Sebab bersabar merupakan salah satu prinsip Islam terpenting yang harus disampaikan kepada semua manusia.

Dalam memandang fenomena hijrah Rasulullah saw ke Thaif ini, mungkin ada orang menyimpulkan bahwa Rasulullah saw telah menemui jalan buntu dan merasa putus asa, sehingga dalam menghadapi penderitaan yang sangat berat itu ia mengucapkan doa tersebut kepada Allah, setelah tiba di kebun kedua anak Rabi’ah.

Tetapi sebenarnya Rasulullah saw telah menghadapi penganiayaan tersebut dengan penuh ridha, ikhlas dan sabar. Seandainya Rasulullah saw tidak sabar menghadapinya tentu beliau telah membalas jika suka tindakan orang-orang jahat dan para tokoh Bani Tsaqif yang mengerahkan mereka. Namun ternyata Rasulullah saw tidak melakukannya.

Di antara dalil yang menguatkan apa yang kami kemukakan ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a , ia berkata :"Wahai Rasulullah saw, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Nabi saw, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Nabi saw melanjutkan. "Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “ Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka." Jawab Nabi saw, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyambah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada para sahabatnya dan ummatnya sesudahnya, kesabaran dan seni kesabaran dalam menghadapi segala macam penderitaan di jalan Allah.bahwa pengaduan kepada Allah adalah ‘ibadah. Merendahkan diri kepada-Nya dan menghinakan diri di hadapan pintu-Nya adalah perbuatan taqarrub ketaatan.

Sesungguhnya penderitaan dan musibah yang menimpa manusia mempunyai beberapa hikmah. Di antaranya, akan membawa orang yang mengalami musibah dan penderitaan itu kepada pintu Allah dan meningkatkan ‘Ubudiyah kepada-Nya. Maka tidak ada pertentangan antara kesabaran terhadap penderitaan dan pengaduan kepada Allah. Bahkan kedua sikap ini merupakan tuntutan yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita. Melalui kesabarannya terhadap penderitaan dan penganiayaan, Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran ini adalah tugas kaum Muslimin secara umum, dan para da’i secara khususnya. Melalui pengaduan dan taqarrub kepada Allah, Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada kita kewajiban ‘ubudiyah dan segala konsekuensinya kepada kita.

Kedua, jika anda perhatikan setiap peristiwa Sirah Rasulullah saw bersama kaumnya, akan anda dapati bahwa penderitaan yang dialami oleh Rasulullah saw kadang sangat berat dan menyakitkan. Tetapi pada setiap penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya selalu diberikan penawar yang melegakan hati dari Allah swt. Penawar ini dimaksudkan sebagai hiburan bagi Rasulullah saw agar faktor-faktor kekecewaan dan perasaan putus asa tidak sampai merasuk ke dalam jiwanya.

Ketiga, apa yang dilakukan oleh Zaid bin Haritsa, yaitu melindungi Rasulullah saw dengan dirinya dari lemparan batu orang-orang bodoh bani Tsaqif sampai kepalanya menderita beberapa luka, merupakan contoh yang harus dilakukan oleh setiap kaum Muslimin dalam bersikap terhadap pemimpin dakwah. Ia harus melindungi pemimpin dakwah dengan dirinya sekalipun harus mengorbankan kehidupannya.

Keempat, apa yang dikisahkan oleh Ibnu Ishaq tentang beberapa jin yang mendengarkan bacaan Rasulullah saw ketika sedang melakukan shalat malam di Nikhlah, merupakan dalil bagi eksistensi jin, dan bahwa mereka mukallaf (dibebani kewajiban melaksanakan syariat Islam). Di antara mereka terdapat jin-jin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, di samping mereka yang ingkar dan tidak beriman. Dalil ini telah mencapai tingkatan qath’i (pasti) dengan disebutkannya di dalam beberapa nash al-Quran yang jelas, seperti beberapa ayat pada awal surat al-Jin dan seperti firman Allah di dalam surat al-Ahqaf

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).“ Ketika pembacaaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada pendengaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari ahzab yang pedih.“ QS al-Ahqaf : 29-31

Jelas bahwa semua yang disaksikan dan dialaminya di Thaif setelah penyiksaan dan penganiayaan yang dialaminya di mekkah, tidak memiliki pengaruh sama sekali terhadap keyakinannya kepada Allah, atau melemahkan kekuatan tekadnya yang positif di dalam jiwanya.

Demi Allah ! Ini bukanlah ketabahan manusia biasa yang memiliki kekuatan lebih dalam menghadapi penderitaan dan tekanan. Tetapi ia adalah keyakinan Nubuwwah yang telah menghujam dalam di dalam hatinya. Rasulullah saw mengetahui bahwa segala tindakkannya itu semata-mata untuk menjalankan perintah Allah dan berjalan di atas jalan ynag diperintahkan-Nya, beliau tidak pernah ragu sedikitpun bahwa Allah pasti akan memenangkan urusan-Nya, dan bahwa Dia telah menjadikan ketentuan bagi tiap sesuatu.

 

 

 

4.       Memahami Peristiwa isra dan mira’j Nabi Muhammad Saw (kajian surat al-isra dan surat al-hud)

4.1        

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top